Selasa, 07 Januari 2020

Rintihan rindu

Di saat malam mulai menyisir waktu
Ku ingin menikmati tarian bintang
Buat menyegarkan suasana angan yang terpenuhi duka lara cinta

Aku tau......
Kembali ke masa lalu sama saja dengan membuka lubang derita yang lebih mendalam

Aku tau....
Indahnya bersamamu adalah kenangan menyiksa

Aku tau...
Tak akan ada faedahnya ketika harus kembali berkelana ke masa lalu

Namun....
Semua terasa sulit
Hatiku beku
Kalbuku senyap
Derita rindu membakar jiwa damaiku

Apa yang telah kau lakukan
Telah memusnahkan kesucian cintaku

Aku tau....
Aku salah telah menyerahkan segalanya buat pengabdian cintaku padamu
Tak ada lagi yang tersisa buat ku abdikan cintaku pada yang lain

Aku tau....
Aku harus jujur tentang masa laluku
Namun akankah ada yang menerima
Entahlah...

Semua telah terbakar terbawa longsoran gelora asmara

Aku tak mengenalmu

HARUSKAN AKU TAU

Aku tidak tau teori tentang zat pada diri
Tapi aku tau zat tak akan berwujud jika tak memiliki sifat

Dan setiap sesuatu yang telah di kenal maka pastilah memiliki nama

 zat yang tercipta dari pigmen yang mengeras dengan sifat yang keras dan kaku asma nya dikenal dengan batu

Lalu bagaimana denganNya yang hanya aku tau hanya AsmaNya dan sifatNya....?

Disinilah kebodohanku yang tak mengenal zatullah yang ku tahu dari para sifu itu adalah rahasia

Ku tau zat batu
Ku tau sifat batu
Ku tau asmanya
Setelah ku mengenali dan mengetahuinya maka aku tau Afalnya

Lalu bagaimana aku bisa meng-afal-kanNya jika zatnya tak ku kenali

Akhir pertualangan pencarianku
Yang ku dapati hanyalah RahasiaNya

Sembahyang diri

SEMBAHYANG DIRI

Berdiri kokoh tegakkan raga buat memuja dan berdialog dengan kalbu
 tanda syukur atas hidupku

Dalam rukuk..... ku ihlaskan kenyataan hidup atas apa yang ku jalani, mengingat sejati damai dan bahagia hanya mampu tercipta ketika fower keakuanku dapat ku tundukkan dengan menurunkan harga diri keegoisanku

Aku kini melayang menerobos awang uwung kepasrahan diri menuju keridhaanNya

Hingga ku terjerebab dalam sujud, untuk bersyukur atas nikmat hidup yang teranugerahkan kepadaku

Ku angkat muka bathinku yang tertatih dan duduk meratapi kehidupanku
Seraya bertasbih mensucikanNya buat meraih keindahan taman hati

Duhai semesta alam
Sampaikan salamku kepada segenap insan semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa mereka nikmati

Senin, 06 Januari 2020

Dimana aku


Dimanakah aku bisa  berjumpa denganNya
Letih ku mencari
Lelah ku menelaah
Yang kutemukan hanyalah bayangan hampa

Dimanakah aku bisa berjumpa denganNya
Didalam gelap kutemukan gulita

Saat aku masih sebagai karubiyun ovarium rahim seorang ibu, tetap saja ku tak ingat apa apa

Saat cerita kematian di lubang sempit dan gulita ku tak menemukan terangnya cahaya ilahi

Lalu dimanakah ku dapat berjumpa denganNya
Di semak hanya ada aku
Di lembah hanya ada aku
Di atas puncak gunung hanya ada aku
Di kedalaman samudra hanya ada aku

Aku dimana mana
Tak ku jumpai diriNya
Akankah aku itu diriNya



Minggu, 05 Januari 2020

Naturalisasi atma

Banjir menyisakan perbuatan manusia
Kau membersihkan ruang dari apa yang terlihat
Tampil rapi dan elegan

Namun kau lupa membersihan kedalaman kalbu yang akan membersihan jiwa yang hampa

Kau bisa saja menyembunyikan betapa kotor dan joroknya perbuatan itu hingga kau tampil bersih dan elegan

Namun sekarang kau dapat menyaksikan betapa mengerikan dampak dari perbuatan dan perilaku itu

Tumpukan sampah dengan menyebarkan aroma amis bercampur dengan bau bangkai tikus bercampur dengan aroma bekas kondom
Dan kau kemas dengan aroma teraphy dan hisapan rokok tanda kau tak mampu menerima kenyataan

Sabtu, 04 Januari 2020

Dimana engkau

TAK KU TEMUKAN

Di malam riuh gemuruh terlihat kilatan kemarahan cakrawala yang terpancar lewat amukan mata dewa

Entah apa yang membuatmu murka
Entah apa yang membuatmu tersinggung
Entah apa yang membuatmu tak juga puas dengan amukan rasa

Hanyalah aku yang berlari mengejarmu siapa tau kau bersamanya
Tak ku hiraukan kemarahan cakrawala
Kembali letih dan kecewa
Tak ku temukan dirimu di sana
Hanyalah aku
Yang kulihat hanyalah aku
Yang ku temukan hanya aku

Lalu di manakah engkau
Yang ada hanyalah aku
Aku adalah diri dalam sendiri
Sendiri menatap rabbul izati

Yang kutemukan hanyalah rahasia
Rahasia tentang siapa aku
Aku yang terlentang
Aku yang mengeluh
Aku yang berdesah
Aku yang bersedih
Aku yang lara
Aku yang kara

Karena aku yang tergerak
Dan terjalani oleh kehendak nafsu

Aku tak akan lelah dan letih untuk mencarimu
Jika ku terilhami oleh ridhamu

Tak akan ku cari tumpukan harta
Tak akan ku cari kesenangan
Tak akan ku cari kegembiraan
Semua itu akan berakhir dengan kesedihan dan tangisan

Yang ku inginkan hanyalah kemurnian keindahan taman hati
Karena apa yang ku miliki hanyalah ridhamu
Karena qadha dan qadharku telah kau tentukan



Cakra buana

Terbentang luas alam maya
Meniupkan debu debu kehidupan
Menghempas amarta kasih

Semua tercipta buat di nikmati
Ingin terbang tinggalkan bumi
Mencari makna natural alam raya

Sunyi dengan tarian bintang
Hebusan sepoi semilir banyu kerinduan
Menentramkan jiwa kelana

Semua hanyalah ilusi alam khayal
Semua telah poranda
Tergantikan hembusan AC dan kipas angin
Alam tak lagi mampu memberikan rasa nyaman

Tangisan awan yang membawa kesejukan dan kedamaian dengan nyanyian konser kodok, kini telah tergantikan bingar dentum nada low dari bas dan ritm

Pelangi tak lagi menjadi sabuk katulistiwa karena terpantul rumah kaca

Kini ku mulai rindu nyanyian cengkerik saat matahari mulai menyinari bumi,  tergantikan ring tone hand phone

Rindu saat air bah datang
Ada harapan mendapat ikan yang banyak dari tali kail yang terlempar

Kini yang di dapat hanyalah sisa sisa kondom dan jarum suntik, masih untung dapat BH bisa di gunakan untuk penutup rasa malu

Jumat, 03 Januari 2020

Luka karena cinta



Betapa saat ini ruang hatiku terhimpit siksa rindu
Tatapanku nanar
Pandanganku berkunang
Napasku ngap
Terpaku oleh kilatan reklame cintamu

Semakin sedih dan hanyut
awanpun ikut isak dengan meneteskan banyu
Seolah ikut lara dalam kesedihanku

Oh cinta
Kenapa aku harus mengenalmu
Kenapa aku harus terbius pesonamu
Iklan cintamu telah membuatku yakin akan cinta suci yang kau reklamekan

Kini ku semakin terperosok
Tenggelam dalam penyesalan
Cintamu telah membuatku tak mampu berkilah
Cintamu telah membuatku tak lagi mengenali akan diriku
Terjerat pesona gelora asmaramu

Ku serahkan segala galanya buat pengabdian cintaku padamu
Hingga tak lagi tersisa buatku meniti arti lain

Kau menghianatinya
Kau merobek keyakinanku
Hingga ku tenggelam dalam nista asmara

Air mata keindahan hatiku telah mengering terbakar api cemburu
Yang menyisakan debu debu penyesalan
Penyesalan atas keyakinan akan cinta suci yang kau tawarkan

Sangkakala

Kembali alam diselimuti gempita konser cakrawala
Menggetarkan jagat dunia atas
Tiupan tiupan napas sangkakala kini menerbangkan atap
Meruntuhkan tembok keangkuhan

Awan pun terisak melihat kemarahan sang bayu
Isak tangisan awan membuat semakin marah dengan kilatan kilatan mata dewa yang menyambar ketinggian dengan gelegar tikaman petir menghantam dunia

Ku semakin liar
Ku semakin resah
Ku semakin takut
Kemana lagi ku berlindung

Di balik tembok
Kini tembok mulai runtuh oleh genangan tangisan awan

Di bawah pohon mulai layu tersambar kilatan mata dewa

Entah dimana lagi

Ya allah .......
Aku hanya mampu pasrah
Dan ihlas menerima ridhamu


Bencana

Lembayung senja
kini telah terbawa sang kelam
Himpitan rasa kembali di cekam rasa
Terbenam dalam hiruk pikuk bencana

Gempa bumi memporak porandakan tatanan senyuman
Tanah longsong meninggalkan tangisan
Dan kini......
Banjir menghanyutkan kenangan
Membawa hasil keringat ke antah berantah, tak ada yang tersisa hanya hutang yang harus dipikirkan

Semua menjadi kacau
Semua menjadi berantakan
Hanya orang yang bersyukur yang mampu tersenyum menerima ujian dan peringatan malaekat akan akhir kehidupan

Sementara diantara kita bukannya introspeksi diri tentang imannya, malah menambah kehancuran taman keindahan hatinya dengan bergibah

Menyalahkan orang lain
Sebagai pelampiasan murka tuhan atas perilakunya

Itulah manusia
Manusia yang senatiasa di jalankan oleh nafsu

Ikatlah nafsu itu dengan tali keimanan agar tercipta aroma semerbak bunga bunga ahlak yang tumbuh di taman keindahan hati





Dampak banjir

cacian dan makian
Adalah satu kehebatan manusia
Mereka tidak mau di salahkan karena hidup hegemonis dan glamour

Mereka tak jua mau di salahkan
Hingga mencari siapa yang di salahkan
Mereka mencaci segelintir orang
Mereka memaki orang orang yang tak sejalan dengannya

Inilah indonesiaku
Semua ini adalah bencana
Tanda peringatan dari sang kuasa

Kalian masih saja menyalahkan manusia lain, sementara kalian hidup bergelimang dosa, asik dengan hal menyenangkan diri
Mencari hiburan dengan berkaraoke hingga masuk kamaroke

Wahai sahabat.......
Menyalahkan orang lain adalah tanda ketidak mampuannya sebagai leader

Wahai sahabat
Diamlah ...... Renungi apa yang terjadi sebagai peringatan dari sangkakala bahwa kehancuran bisa saja lebih mengerikan jika kita tak jua bersyukur atas napas kehidupan

Wahai sahabat........
Jangan salahkan orang lain karena mereka juga manusia biasa

Wahai sahabat .......
Bersyukurlah kepada tuhanmu
Atas peringatan atas perilaku kita
Agar kita menjadi lebih baik dengan kembali kejalan yang di ridhai

Rabu, 01 Januari 2020

Desah bayu

Awal tahun ini
Siang masih saja terdengar isak desah bayu berdesir rebahkan kokohnya kerinduan
Tak juga tetesan awan reda
teriakan petir menggelegar menembaki ruang acak
Membuat sebagian insan tafakkur dalam buaian selimut
Berdengkur iramakan mimpi indah

Sahabat......
Tirta nitmala mulai tak perduli dengan desah pinta doaku agar memberikan ruang buat mentari hangatkan raga yang menggigil oleh tiupan cinta

Sahabat..... Berilah ruang di hatimu hanya sekedar mengingat akanNya sesaat saja itu akan membuat insan dunia terhindar dari azab

Duhai sahabat......
Cerita ada banjir
Cerita ada gempa
Cerita ada puting beliung
Cerira ada tanah longsor
Cerita tentang bencana
Adalah peringatan semua akan hancur

Berilah ruang di hatimu dengan hiasan asmaNya agar keindahan taman hati damaikan kenyataan yang ada

Kecewa

Kau kini lebih takut kau di ketahui olehnya
Kau dulu mengagungkan cintaku
Kini ku kecewa
Kini ku kecewa

Ku kecewa bukan karena khianatmu
Namun ku kecewa karena ku telah menyerahkan segalanya kepadamu

Ku kecewa bukan karena kau berpaling dari cintaku tapi ku kecewa karena ku terlalu percaya cinta sucimu

Ku kecewa bukan karena dirimu tapi ku kecewa karena tak mampu melupakan khianatmu

Ku kecewa bukan karena senyummu, tapi aku kecewa karena aku terlalu sayang kamu

Kini semua telah menjadi puing kehancuran
Kini semua telah poranda oleh tsunami cintamu

Akan ku tata kembali ruang hancurku dengan menyerahkan segalanya kepada ridhaNya

Banjir

 Di awal tahun ini alam
menggelar konser air mata awan
dengan nyanyian khas
dan tabuhan halilintar menghantam permukaan alam
dengan sesekali hembusan napas angin
menghempas kenyataan yang ada
membuat semua terbang
atap rumah tak lagi utuh
pohon tercabut dari akar-akarnya
tumbang tersungkur dan bersujud memohon ampunan kepada alam
alam yang memberikannya zat buat membesarkannya

alampun kini bosan
alampun kini tak lagi mampu berbuat apa apa
Tak lagi mampu menampung dan menghisap kesedihan air mata awan yang di tumpahkan
Mereka hanya memberikan peringatan
Semua akan hancur
Lebur menjadi debu debu keimanan

genangan
gnangan demi genangan mulai mengaliri selokan
selokan tak jua mampu menampung genangan
Kesedihan awan
 melimpah menuju anak anak sungai

sungaipun tak lagi mampu berbuat apa-apa
sepadan sungai kini telah di huni
pepohonan kini tlah tergantikan dengan tiang beton
sempit dan dangkal oleh limbah rumah tangga

gorong-gorongpun kini mulai muntah saat limbah softtek
limbah bungkus rokok
hingga kotoran bekas kondom
membeludak dengan bungkus plastik

dan kini .... manusia
hanya mampu berdesah
BANJIR............................

dan menyalahkan pimpinan yang hanya mampu
berfikir buat rakyat-rakyat yang akan di hisapnya

rakyat-rakyat yang hanya mampu di obok-obok
di paksa membayar pajak
di paksa membayar iuran
di paksa untuk di gusur
Untuk memuaskan hasrat pokitiknya