Rabu, 23 Juli 2014

tanpa kami tak akan ada demokrasi

TANPA KAMI TAK AKAN ADA DEMOKRASI

Tersenyumlah ibu ibu yang bapak bapaknya menang dalam pertarungan politik
Tapi masihkah kalian tersenyum
Jika pilpres yang tal legitimate

Boleh berargumen apa saja
Boleh gembira dengan suka
Tapi masih ada satu langkah perjuangan
Legal formal

Simpanlah senyumanmu
Jangan kau umbar senyummu lebih karena kau akan sombong
Kau akan menghujat dan menghina kekalahan oleh system yang terbangun

Kami adalah rakyat
Tanpa kami demokrasi tak akan ada
Simpanlah senyumanmu
Senyuman yang akan menjadi umpatan dan kemarahan

Jangan kau sombong
Karena kekuatan ridha ilahi adalah yang paling mulia
Kau akan tersenyum
Karena system yang terbangun telah menyukseskan ambisimu

Tapi ingat
Kami adalah rakyat
Tanpa kami tak akan ada demokrasi
Simpan senyumanmu agar tangisan kami tak menjadi dendam membara

Rabu, 09 Juli 2014

negeri ku

malam kian larut
Dingin yang menusuk persendian
Tak jua hangat
Semakin sesak kala semua tersaji 
Tak jua ada yang kalah
Tak jua ada yang mengalah
Semua ingin menang

Hanya mereka yang tau
Hanya mereka yang faham
Aku dan kau adalah media mereka

Mereka dengan uangnya
Mereka dengan kekuasaannya
Mereka dengan ambisinya

Tapi...
Taukah kau wahai pemimpi
Kami risau
Kami resah
Kami bimbang
Kami tak tau siapa yang harus ku percaya
Karena potensi ricuh 
Potensi ribut
Potensi kehancuran 
Berpeluang ada

Aku takut
Aku menyesal
Aku sedih
Betapa semua ini bisa saja membuat negeri ini kacau
Negeri ini hancur
Hancur oleh kepentingan segelintir
Mereka hanya bicara
Tapi kami yang takut
Kami yang akan jadi korban

Wahai ....pemimpi
Berilah kami pencerahan
Berilah kami jaminan
Jaminan akan rasa aman
Karena kami butuh buat makan
Kami butuh bekerja dengan aman
Agar kami mampu memberikan cukai dan pajak buat kalian gerogoti

Kami bosan
Kami jenuh
Mana janji kalian
Akankah negeri ini kembali menjadi cerita buat anak cucu kami

Dan kini .... Dalam resah
Kami menanti kehancuran

Selasa, 08 Juli 2014

indonesia jaya

INDONESIA RAYA

Hembusan angin malam
Berhembus menembus sisi relung beku 
Tatapan rindu menembarkan aroma kesedihan
Tertekan kala kalbu terusik senyum indah

Oh malam
Tarian bintang menebarkan harapan hampa
Indah dan mempesona 
Terlalu jauh buat ku raih
Hanya menikmatinya dalam kerinduan

Ingin ku terbang tinggi tinggalkan bumi
Menerobos awan kelam
Menari bersama kedip bintang 

Oh kelam
Dalam himpitan rasa
Kini ku semakin merindukanmu
Semakin tertekan
Semakin bimbang
Karena esok aku juga harus memilih

Memilih buat kerinduanku
Rindu akan kebahagiaan dan kebangganku akan cintaku pada negeri ini

Negeri yang masih juga tertidur
Negeri yang masih saja terlelap oleh buaian mimpi
Oh negeri yang subur 
Subur oleh kepentingan yang akan menghancurkan negeri ini
Ku rindu akan rasa aman
Ku rindubakan rasa damai

Bangunlan wahai saudaraku
Mari dukung mereka dengan damai
Mari tunjukkan kepada dunia
Bahwa kita damai
Bahwa kita bisa
Bisa berdemokrasi

Pilihanmu adalah harapanku
Mari kita bersama esok menjadikan negeri ini sebagai awal kebangkitan menuju INDONESIA JAYA

Senin, 07 Juli 2014

gemuruh rindu


Di saat ini ingin ku terbebas dari himpitan rasa
Kala malam dingin menyeruak dalam relung kerinduan
Mengiggil dalam kesepian
Malam makin larut
Kala semua keindahan tentang bersamamu terkuak
Membinasakan keheningan

Ribut oleh hasutan jiwa 
Ingin kuredam gejolak rasa ini
Ingin ku raih kedamaian
Betapa letihnya
Betapa lelahnya 
Berjuang menggapai kesunyian

Oh malam
Senyum indahmu menggetarkan aroma kalbu
Rindu akan senyuman
Rindu akan rengkuhan
Rindu akan malam bersamamu

Dan kini
Prahara gemuruh rindu
Telah menghancurkan pertahanan imanku
Ingin segera menjumpai sang pagi
Agar tak lagi ada gemuruh rindu

Rabu, 30 April 2014

NASI BUNGKUS

Nasi bungkus telah habis terbungkus kekuasaan
Air telah mengering terbakar ambisi kekuasaan
Udara hanyalah yang setia memberikan aku bertahan hidup
Bersama terik aku terpanggang panas api kekuasaan
Diantara kalian
Selalu saling hujat
Wahai sahabat........
Sisihkan sebagaian sisa pulsamu untuk ku belikan sisa nasi bungkus yang telah dibagikan untuk tenaga saling hujat

Kau membodohi aku
Mengatakan dia adalah pemimpin
Tapi dia tidak lebih dari pemimpi

Kini apakah kau perduli dengan keadaan ini
Semua orang mampu melihat
Karena itu adalah hiburan

Berapa banyak yang diperbuat
Dari apa yang dilihat

Nasi bungkus telah habis terbagi
Hanya tersisa bungkus keangkuhan

Hanya diam
Saat air liur rasa lapar mendera

Hutan tempatku berteduh
Telah di kuasai bangsa lain
Saatku menoreh separuh ranting
Ku di tahan dengan dalih pembalakan liar

Aku lapar
Carikan aku pemimpin dan jangan carikan aku pemimpi